Gowa,Takalarnews.com – Gelombang aspirasi dan keprihatinan dari berbagai elemen masyarakat terus menguat terkait rencana alih fungsi Bumi Perkemahan (Buper) Cadika di Kabupaten Gowa. Para pegiat kepramukaan, tokoh kepemudaan, hingga masyarakat umum menyuarakan penolakan terhadap rencana tersebut melalui gerakan moral bertajuk “CADIKA: Untuk Generasi Bangsa,
Bukan untuk Dialihfungsikan!”. Gerakan ini mendesak pemerintah daerah agar meninjau kembali kebijakan yang dinilai dapat menghilangkan salah satu ruang pendidikan karakter paling bersejarah di Sulawesi Selatan, Sabtu (23/5/2026).
Masyarakat menegaskan bahwa mereka mendukung penuh pembangunan dan kemajuan pendidikan di Kabupaten Gowa. Namun, pembangunan fisik dinilai tidak seharusnya mengorbankan aset bersejarah dan ruang pembinaan generasi muda yang telah lama menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan karakter.
Karena itu, permohonan terbuka disampaikan kepada Bupati Gowa dan seluruh pemangku kebijakan agar tetap mempertahankan fungsi utama Buper Cadika sebagai pusat kegiatan kepemudaan dan kepramukaan.
Mantan Pengurus Pramuka Sekretaris Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Takalar periode 2018–2022, Andi Gunawan, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pribadinya menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana alih fungsi Buper Cadika Limbung.
Ia menilai kawasan tersebut memiliki sejarah besar dalam perkembangan Gerakan Pramuka di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. “Mesti dipahami sejarah berdirinya Cadika Gowa sebagai salah satu Cadika percontohan era 70-an di Indonesia dan mendapat bantuan dari pusat serta merupakan peninggalan Ayahanda H.M. Yasin Limpo sebagai tokoh Pramuka Indonesia dan Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Menurut Andi Gunawan, menggantikan fungsi Cadika dengan kepentingan lain sama halnya dengan mengaburkan dan tidak menghargai warisan tokoh-tokoh pendahulu yang telah membangun tempat tersebut sebagai pusat pembinaan karakter generasi muda. Ia berharap pemerintah dapat mencari alternatif lahan lain demi kepentingan pembangunan daerah tanpa harus mengorbankan kawasan bersejarah tersebut.
“Kami sebagai anggota Pramuka keberatan. Solusinya mungkin bisa mencari lahan lainnya demi kepentingan daerah. Salam Pramuka, satu Pramuka untuk satu Indonesia,” tambahnya.
Buper Cadika selama ini dikenal bukan sekadar area perkemahan, melainkan ruang pembelajaran kehidupan yang membentuk disiplin, tanggung jawab, solidaritas, hingga kecintaan terhadap alam. Tempat itu telah menjadi saksi perjalanan ribuan pemuda lintas generasi dalam menempa diri menjadi pribadi yang tangguh dan berintegritas.
Masyarakat menilai, hilangnya fungsi ruang terbuka seperti Cadika akan mengurangi ruang positif bagi pembinaan pemuda di tengah tantangan modernisasi yang semakin kompleks, sehingga keberadaannya harus tetap dipertahankan sebagai warisan pendidikan karakter bagi generasi bangsa.
(Tojeng)

Leave a Reply