Takalarnews.com – Setahun lalu, dunia pendidikan di Kabupaten Takalar berada pada posisi yang kurang membanggakan. Dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan, daerah ini tercatat berada di peringkat dua terbawah dalam capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan.
Bagi kami para kepala sekolah, fakta tersebut bukan sekadar angka statistik.
Itu menjadi cerminan bahwa sistem pendidikan yang berjalan masih belum optimal. Kondisi itu sempat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan rasa malu. Namun justru dari titik itulah semangat untuk melakukan perubahan mulai tumbuh.
Perubahan tersebut bermula dari sebuah langkah yang tampak sederhana, namun memiliki dampak besar.
Suatu waktu, Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengumpulkan seluruh kepala sekolah dalam sebuah pertemuan. Instruksinya cukup singkat namun tidak biasa: setiap kepala sekolah diminta hadir tanpa didampingi operator sekolah.
Bagi sebagian orang, hal itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi kami para kepala sekolah, momen tersebut cukup menegangkan. Selama ini, urusan data pendidikan sering kali dianggap sebagai wilayah operator sekolah, sementara kepala sekolah lebih fokus pada administrasi dan operasional harian.
Dalam pertemuan tersebut, beberapa kepala sekolah diminta mempresentasikan hasil Rapor Pendidikan sekolah masing-masing.
Di situlah realitas terlihat dengan jelas. Masih ada kepala sekolah yang belum sepenuhnya memahami data sekolahnya sendiri, bahkan belum terbiasa membuka dan membaca laporan Rapor Pendidikan secara mandiri.
Situasi itu menjadi tamparan bagi kami semua. Bupati Takalar kemudian menyampaikan pesan sederhana namun sangat mendasar: bagaimana mungkin sekolah dapat berkembang jika pemimpinnya sendiri tidak memahami data yang menjadi dasar pengambilan keputusan?
Pesan tersebut terasa menohok, tetapi justru itulah yang kami butuhkan. Selama ini, kita sering berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan, tetapi lupa bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa kepemimpinan yang memahami persoalan secara nyata.
Rapor Pendidikan sebenarnya bukan sekadar laporan tahunan. Di dalamnya terdapat peta kondisi sekolah, mulai dari capaian literasi, kemampuan numerasi, hingga kualitas lingkungan belajar. Jika data tersebut tidak dipahami oleh kepala sekolah, maka arah pengembangan sekolah menjadi tidak jelas.
Momentum itulah yang kemudian mendorong perubahan budaya di sekolah-sekolah di Takalar. Melalui
Dinas Pendidikan dan para pengawas sekolah, pendampingan mulai dilakukan secara lebih intensif. Kepala sekolah didorong untuk memahami berbagai indikator dalam Rapor Pendidikan, termasuk literasi, numerasi, serta kualitas pembelajaran.
Diskusi tentang data pendidikan pun mulai menjadi hal yang biasa di lingkungan sekolah. Kami belajar melihat persoalan pendidikan secara lebih objektif, tidak lagi hanya berdasarkan asumsi.
Perubahan cara berpikir ini perlahan berdampak pada proses perencanaan program di sekolah. Penyusunan anggaran melalui ARKAS, misalnya, tidak lagi sekadar rutinitas administratif, tetapi mulai disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang terlihat dalam data pendidikan.
Para guru juga mulai terbiasa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran di kelas. Meski perubahan ini tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, proses tersebut perlahan membangun fondasi baru dalam tata kelola pendidikan di sekolah.
Hasilnya mulai terlihat pada capaian terbaru pendidikan di Kabupaten Takalar. Daerah ini berhasil melonjak ke peringkat pertama dalam kategori
Tuntas Madya pada capaian Standar Pelayanan Minimal pendidikan.Bagi kami di sekolah, capaian ini bukan sekadar prestasi administratif.
Di balik angka tersebut, terdapat perubahan nyata yang mulai dirasakan. Kemampuan literasi dan numerasi siswa meningkat, lingkungan belajar menjadi lebih aman dan inklusif, serta guru semakin terbiasa mengevaluasi metode pembelajaran mereka.
Yang tidak kalah penting, para kepala sekolah kini mulai lebih akrab dengan data. Perubahan ini menunjukkan satu hal penting: reformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit.
Terkadang, perubahan justru dimulai dari langkah sederhana—memastikan para pemimpin sekolah memahami kondisi sekolahnya sendiri melalui data.
Takalar pernah berada di posisi yang kurang membanggakan dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan. Namun pengalaman setahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi jika ada keberanian untuk mengakui masalah dan kemauan untuk memperbaikinya.
Kini tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut. Sebab peningkatan mutu pendidikan bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu tahun, melainkan proses panjang yang membutuhkan konsistensi.
Bagi kami para kepala sekolah, pelajaran terpenting dari perjalanan ini adalah satu hal: pendidikan tidak bisa dibangun tanpa kepemimpinan yang memahami data.
Karena pada akhirnya, data bukan sekadar angka.Ia adalah peta yang menunjukkan arah perjalanan pendidikan ke depan.
(Tojeng 99)

Leave a Reply